CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label Spesies Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spesies Baru. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Oktober 2010

Spesies Baru Katak Pino Kio ditemukan Di Papua

Katak pohon jenis baru (Litoria sp. nov.) yang ditemukan di Papua belum lama ini unik dengan bagian tubuh memanjang di mukanya sehingga seperti hidung Pinokio.





Pinokio adalah ceritra boneka berhidung panjang yang menjelma menjadi manusia sungguhan atas jasa peri cantik. Sebuah ekspedisi ilmiah menemukan sejumlah spesies baru di Pegunungan Foja, di Pulau Guinea Baru, Provinsi Papua. Salah satunya jenis katak baru yang pantas disebut katak Pinokio karena memiliki bagian tubuh memanjang di mukanya.

Kita tau bahwa banyak kekayaan dan flora dan faunan dipapua yang belum tergali sepenuhnya dan kemungkinan spesies baru akan ditemukan di tanah mutiara hitam ini. Sudah banyak jenis tumbuhan dan obat-obatan baru yang memiliki daya kesembuhan hebat yang di temui di daerah ini. dan juga banyak jenis faunan cantik spesies baru yang ditemukan di daerah ini.

Spesies baru itu yakni katak (Litoria sp nov) yang diamati memiliki benjolan panjang pada hidung seperti pinokio yang menunjuk ke atas bila ada ajakan dari jenis jantan serta mengempis dan mengarah ke bawah bila aktivitasnya berkurang. Katak ini ditemukan herpetologis, Paulus Oliver, secara kebetulan.

Kepala Komunikasi Conservation International (CI) Elshinta S Marsden di Jakarta, Senin (17/5/2010) malam, mengatakan, katak tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak spesies baru yang ditemukan selama Conservation International’s Rapid Assessment Program (RAP) pada tahun 2008. Ekspedisi ini merupakan kolaborasi ilmuwan dari dalam dan luar negeri, termasuk para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Selain katak pinokio, spesies baru yang ditemukan lainnya, antara lain, tikus besar berbulu, tokek bermata kuning berjari bengkok, merpati kaisar, walabi kerdil (Dorcopsulus sp nov) anggota kanguru terkecil di dunia, serta seekor kanguru pohon berjubah emas yang sudah sangat langka penampakannya, dan sangat terancam keberadaannya karena perburuan dari bagian wilayah Guinea Baru lainnya.

Kejutan terbesar dari ekspedisi itu datang ketika seorang ornitologis, Neville Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru ditemukan (Ducula sp nov) dengan bulu-bulu yang terlihat berkarat, agak putih, dan abu-abu. Temuan lainnya yang direkam selama survei RAP itu, antara lain, kelelawar kembang baru (Syconycteris sp nov) yang memakan sari bunga dari hutan hujan, seekor tikus pohon kecil (Pogonomys sp nov), seekor kupu-kupu hitam dan putih (Ideopsis fojana) yang memiliki hubungan dengan jenis kupu-kupu raja pada umumnya, dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides).

“Untuk menentukan temuan tersebut betul-betul terbaru perlu diteliti dulu famili dan habitatnya. Hal itu butuh waktu bertahun-tahun,” katanya. Kepastian penemuan itu diungkapkan dalam rangka menandai peringatan Hari Keanekaan Ragam Hayati se-Dunia (International Day for Biological Diversity) pada 22 Mei.

Pada ekspedisi RAP yang didukung The National Geographic Society dan Smithsonian Institution ini, para ahli biologi bertahan menghadapi hujan badai yang lebat dan banjir bandang yang mengancam sambil terus melacak spesies-spesies, mulai dari bukit rendah di Desa Kwerba sampai ke puncaknya pada kisaran 2.200 meter di atas permukaan laut.

Disebutkan juga, Wakil Presiden Regional CI Indonesia Jatna Supriatna, PhD, mengatakan, temuan ini dapat menunjukkan berapa banyak bentuk spesies unik yang hanya hidup di hutan-hutan pegunungan Papua, dan menyadarkan dunia betapa hutan-hutan ini harus dilestarikan.

“Para peneliti LIPI merasa sangat bersyukur turut terlibat dalam pengungkapan keanekaan ragam hayati kawasan Pegunungan Foja, Mamberamo. Adanya kerja sama penelitian ini jelas mendukung program-program konservasi pada kawasan yang memiliki biodiversitas sangat tinggi dan termasuk dalam daftar perlindungan undang-undang RI,” kata Ketua Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr Hari Sutrisno.

Sedangkan Gubernur Papua Barnabas Suebu mengingatkan, pihaknya sepakat dan sangat mendukung agar wilayah-wilayah ber-biodiversitas sangat tinggi di Provinsi Papua dipertahankan karena banyak spesies endemik di wilayah ini yang masih terisolasi dan tidak terdapat di belahan dunia lain.

Senin, 18 Oktober 2010

Ditemukan, Spesies Baru Siput Laut

TERKADANG harta dapat ditemukan di belakang rumahmu, terutama jika Anda tahu di mana harus mencarinya. Hal ini yang terjadi pada Jeff Goddard, ilmuwan proyek di Marine Science Institute di UC Santa Barbara Amerika Serikat.

Goddard sedang bekerja di kolam pasang air laut di Karang Carpinterua, Taman Nasional Carpinteria, California, saat ia menemukan spesies baru dari nudibranch (siput laut). Goddard memasukkannya dalam keluarga dari siput laut berdasarkan warnanya yang terang dan bentuknya yang lembut.

Ketika mengenali siput tersebut merupakan spesies baru, Goddard dengan hati-hati mendokumentasikan spesimen hidup itu dan mengirimnya ke Terrence M Gosliner, seorang yang mempunyai kewenangan pada taksonomi siput laut di California Academy of Sciences di San Francisco.

Sebelum dikirim, Goddard menyimpan siput ini di laboratoriumnya selama beberapa hari hingga siput tersebut bertelur ribuan, lalu mengobservasi pertumbuhan awal dan penetasan larvanya.

Terhadap temuan Goddard itu Gosliner menamakannya dengan mengikuti nama
Goddard. Hasil penelitian ini dimuat pada Proceedings of the California Academy of Sciences, pertengahan bulan lalu.

"Nudibranch air dangkal terutama fauna California Selatan sangat dikenal,jadi sangat menggembirakan untuk menemukan spesies baru di daerah Santa Barbara, tempat yang sangat dekat dengan kami," kata Goddard. "Lagi pula hanya satu spesimen yang ditemukan, jadi kita perlu menemukan di mana yang lainnya bersembunyi, apa yang mereka makan, dan dengan siapa mereka berinteraksi."

Pada kesempatan itu Goddard mengaku merasa terhormat bahwa Gosliner memilih menamakan spesies baru itu seperti namanya. Nama ilmiahnya adalah Flabellina goddardi, berukuran panjang 30 milimeter saat merentang dan merayap. Goddardi adalah spesies kelima dari Flabellina yang dikenal dari California.

Dalam artikel ilmiahnya, Goddard mendeskripsikan spesies baru itu memiliki karakteristik eksternal dengan rhinophore halus, ekor panjang, dan tentakel cephalic, sudut kaki meruncing, dan kurang pigmentasi pada kepala, badan dan ujung tentakel. Goddard menemukan siput laut pada 2008. Seperti banyak penemuan taksonomi, penamaan itu terkadang membutuhkan beberapa tahun untuk dokumentasi, penyandingan dengan spesies yang sudah dikenal.

Ini Dia Laba-laba Vegetarian Pertama di Dunia

Hampir semua spesies laba-laba merupakan jenis predator yang memangsa hewan lainnya, dari serangga sampai burung. Di antara lebih dari 40.000 spesies laba-laba yang ada di dunia, laba-laba yang baru ditemukan ini mungkin jenis pertama diketahui makan tumbuh-tumbuhan.

Hewan berkaki delapan yang diberi nama Bagheera kiplingi itu, hidup di Amerika Tengah khususnya Meksiko dan Costa Rika. Laba-laba vegetarian yang besar tubuhnya hanya seukuran kuku orang dewasa itu memangsa ujung daun akasia.

"Ini benar-benar laba-laba pertama yang diketahui memangsa tumbuh-tumbuhan. Ia juga laba-laba pertama yang diketahu menjadikan tumbuh-tumbuhan sebagai mangsa pokoknya," ujar Christopher Meehan dari Universitas Villanova, Pennsylvania, AS yang melaporkan penelitian tersebut bersama peneliti lainnya dalam jurnal Current Biology edisi teranyar. Ia mengatakan hampir semua buku teks laba-laba tak ada yang pernah menyatakan ada laba-laba pemakan tumbuh-tumbuhan.

Dalam memperoleh sumber makanan ia cukup dibantu peran semut penjaga yang hidupnya juga di pohon akasia. Pasalnya dengan semut yang menguasai akasia, tidak ada herbivora lainnya yang berani mendekat. Namun, karena semut juga makan ujung daun, selain nektar, laba-laba harus melakukan strategi khusus.

Saat berburu mangsa, laba-laba tersebut harus menghindari smeut penjaga dengan memanfaatkan jaringnya untuk bergerak naik turun. Laba-laba juga membangun sarangnya di pangkal daun akasia tua yang jarang sekali dilalui semut.

Selain memangsa ujung daun, laba-laba tersebut sebenarnya masih memangsa lainnya seperti larva semut dan nektar. Saat memengsa semut mereka akan berpura-pura menjadi semut dengan melakukan gerakan zig-zag.

Meski demikian, pengamatan yang dilakukan menggunakan rekaman video dan analisis kimia menunjukkan laba-laba tersebut tetap mendapatkan sebagian besar makanan dari tumbuhan. Populasi di Meksiko memperoleh 90 persen makanan dari jaringan tumbuhan dan sisanya larva semut, nektar, dan lainnya. Sementara populasi di Kosta Rika memperoleh 60 persen makanan dari daun akasia.

Penemuan Spesies Baru di Parit Laut Paling Dalam di Dunia

"Temuan ini mendorong evaluasi ulang terhadap keanekaragaman dan kelimpahan kehidupan di kedalaman ekstrim." 

Para ilmuwan menyelidiki pada salah satu parit terdalam di dunia laut – yang sebelumnya dianggap tidak dihuni ikan – telah menemukan sebuah spesies yang sama sekali baru.

Temuan oleh tim ahli biologi laut dari Aberdeen, Tokyo dan Selandia Baru, telah memberikan penerangan baru tentang kehidupan di tempat-tempat terdalam di bumi dan distribusi global ikan di lautan kita.

Ekspedisi ke dalam parit Peru-Chili di selatan Samudra Pasifik Timur mengungkapkan spesies baru snailfish di kedalaman 7000 meter, belum pernah tertangkap atau terekam kamera.

Kelompok-kelompok masal belut-cusk dan pemakan bangkai crustacean besar juga ditemukan hidup di kedalaman ini untuk pertama kalinya.

Selama tiga minggu ekspedisi dengan kapal riset Sonne, tim ilmuwan memanfaatkan teknologi pencitraan keadaan-seni-kedalaman-laut, termasuk sistem kamera berumpan bebas-tenggelam pada ultra-kedalaman laut, untuk mengambil total 6000 foto di antara 4500 dan 8000  meter di kedalaman parit.

Ini merupakan espedisi ketujuh yang berlangsung sebagai bagian dari HADEEP – sebuah proyek penelitian kolaboratif antara Oceanlab Universitas Aberdeen dan Institut Penelitian Kelautan Universitas Tokyo, dengan dukungan dari Institut Air dan Atmosfer Nasional (NIWA) Selandia Baru.



Para ilmuwan Oceanlab mengungkapkan spesies baru snailfish di kedalaman 7000 meter, yang belum pernah tertangkap atau terekam kamera. (Kredit: Universitas Aberdeen)


Tim HADEEP telah menyelidiki kedalaman ekstrim di seluruh dunia selama 3 tahun. Temuan mereka sampai saat ini telah menyertakan penangkapan ikan dengan kamera di dunia terdalam untuk pertama kalinya.

Penemuan-penemuan terbaru ini memberikan wawasan baru ke kedalaman di mana ikan bertahan dan keragaman populasi yang bisa berada di titik-titik terdalam samudera di seluruh dunia.

Dr Alan Jamieson dari Oceanlab Universitas Aberdeen, yang memimpin ekspedisi, mengatakan: “Temuan kami yang mengungkapkan spesies yang beragam dan melimpah pada kedalaman yang sebelumnya dianggap hampa ikan, akan meminta suatu pemikiran kembali mengenai populasi laut di kedalaman ekstrim.


Pemakan bangkai crustacean besar ditemukan hidup di kedalaman 8000 meter untuk pertama kalinya. (Kredit: Universitas Aberdeen)


“Ekspedisi ini dipicu oleh temuan kami tahun 2008 dan 2009 di Jepang dan Selandia Baru, di mana kami menemukan spesies baru snailfish yang dikenal sebagai Liparids – parit-parit tanpa habitat di Jepang dan Selandia Baru pada kedalaman sekitar 7000 meter – dengan masing-masing parit menjadi kediaman tersendiri bagi spesies ikan yang unik.

“Untuk menguji apakah spesies ini akan ditemukan di semua parit, kami mengulang eksperimen kami di sisi lain Samudera Pasifik di Peru dan Chile, sekitar 6000 mil dari pengamatan terakhir kami.” Apa yang kami temukan adalah bahwa memang ada spesies unik lainnya yang hidup, snailfish di kedalaman 7000 meter – spesies yang sama sekali baru bagi ilmu pengetahuan, yang tidak pernah tertangkap atau terlihat sebelumnya.

“Spesies belut-cusk – dikenal sebagai Ophidiids – juga berkumpul di depan kamera kami dan mulai berebut makanan (umpan pada kamera) selama 22 jam – keseluruhan durasi penyebaran.

“Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menguraikan apakah ini juga spesies belut-cusk yang sama sekali baru yang telah kami temukan.


Kelompok masal spesies belut-cusk, dikenal sebagai Ophidiid. (Kredit: Universitas Aberdeen)


“Penyelidikan kami juga mengungkapkan spesies pemakan bangkai crustacea – dikenal sebagai amphipod – yang sebelumnya tidak kami ketahui berada di kedalaman ini dalam jumlah besar.

“Makhluk ini seperti udang besar dalam satu kelompok tertentu, yang disebut Eurythenes, umumnya jauh lebih besar dan lebih banyak berada di parit daripada yang pernah ditemukan sebelumnya.”

Dr Niamh Kilgallen, seorang ahli amphipod dari Niwa mengatakan: “Kelimpahan dari amphipod besar saja sudah sangat luar biasa, khususnya pada kedalaman 7000, dan 8000 meter yang jauh lebih dalam dari yang telah ditemukan di dalam parit lain. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa dan bagaimana mereka dapat hidup di parit yang begitu dalam ini tetapi tidak di tempat lainnya.”

Dr Toyonobu Fujii, ahli ikan laut dari Universitas Aberdeen mengatakan, “Seberapa dalam ikan bisa hidup telah lama menjadi pertanyaan yang menarik, dan hasil dari ekspedisi ini telah memberikan wawasan lebih dalam pada pemahaman kita tentang distribusi global ikan di lautan.”

Dr Jamieson menambahkan: “Temuan ini mendorong evaluasi ulang terhadap keanekaragaman dan kelimpahan kehidupan di kedalaman ekstrim. Selanjutnya, sekarang jelas bahwa masing-masing dari kedalaman parit di seluruh dunia mengatur perakitan unik hewan yang dapat berbeda jauh dari parit ke parit. Isolasi besar setiap parit menggambarkan kesejajaran dengan teori evolusi kepulauan yang dipopulerkan oleh burung-burung finch Darwin.” Proyek HADEEP ini didanai oleh Nippon Foundation, Jepang, dan NERC, Inggris.

Temuan Spesies-spesies Hewan Cantik di Papua Nugini

Para peneliti dari Conservation International menemukan sekitar 200 spesies hewan dan tumbuhan di Papua Nugini. Di antara temuan tersebut ada sejenis katak dengan moncong panjang yang berukuran sejempol, belalang hijau menyala dengan mata merah jambu, dan tikus dengan ujung ekor putih. Temuan itu  baru diumumkan, meski ekspedisinya sudah dilaksanakan sejak tahun 2009.
Hewan lain yang dijumpai para peneliti adalah 24 spesies katak, 45 spesies laba-laba, 29 spesies semut, puluhan jenis belalang, 6 spesies capung, dan 2 spesies mamalia, serta 9 spesies tumbuhan. Temuan-temuan itu belum pernah dideskripsikan di literatur ilmiah sebelumnya sehingga bisa dianggap sebagai temuan baru.

"Temuan itu menunjukkan betapa sedikit yang kita ketahui mengenai dunia ini," ujar pimpinan peneliti, Stephen Richards, Kamis (7/10/2010). "Banyak perhatian mengenai hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan dampaknya pada keanekaragaman hayati, lalu kita melakukan proyek seperti ini, dan tersadar, hei kita bahkan tidak tahu ada keanekaragaman hayati di sana," lanjut Richardsyang menyebut bahwa penemuan ini sebagai kabar baik di antara kabar-kabar buruk mengenai kerusakan lingkungan. 

Ekspedisi dilakukan pada April 2009 saat para peneliti menjelajahi pegunungan Nakanai di Pulau New Britain, lalu bergerak menggunakan kano, jalan kaki, dan menumpang helikopter menuju wilayah terpencilyang berhutan. Di sana mereka menemukan beberapa hewan unik, termasuk tikus dengan ekor putih yang sepertinya tidak berkerabat dengan tikus jenis lain dan diduga sebagai genus baru.

Para peneliti juga menemukan katak kecil yang panjangnya hanya 2 sentimeter dan berkerabat dengan katak-katak di Kepulauan Solomon. "Sungguh mengejutkan menemukan hewan-hewan itu," kata Richards.
Pada ekspedisi kedua, September 2009, tim menuju Pegunungan Muller di selatan Papua Niugini. Di sana mereka menemukan beberapa jenis belalang, termasuk jenis yang bisa melawan pemangsa dengan kaki-kakinya yang besar dan berduri. Menurut peneliti yang sempat menggoda hewan itu, pukulan belalang tersebut cukup menyakitkan.

Hutan Papua Niugini adalah satu dari tiga hutan hujan liar yang tersisa di dunia. Dua lainnya adalah hutan Amazon dan lembah Congo. "Saya berani bilang, di mana pun Anda pergi di Papua Niugini, dipastikan Anda menemukan spesies baru atau kurang dikenal," kata Richards.











Cacing Baru dari Great Barrier Reef

Empat spesies cacing yang baru teridentifikasi, termasuk satu jenis yang memiliki warna hijau yang aneh, ditemukan dalam pasir di Great Barrier Reef, Australia.

Lapisan pasir yang menutupi dasar samudra bumi sebenarnya merupakan tempat tinggal bagi beraneka ragam organisme laut. Beberapa jenis binatang dapat memanfaatkan ruang-ruang berisi air di antara butiran-butiran pasir.


Binatang yang baru ditemukan tersebut adalah anggota genus
Grania, kelompok cacing yang ditemukan dalam pasir laut di seluruh dunia, mulai dari pantai pasang surut hingga ke laut dalam. Cacing yang masuk anggota Grania, bagian dari kelas cacing Clitellata, biasanya memiliki panjang 2 sentimeter dan sebagian besar berwarna putih.

Pierre De Wit, ahli zoologi dari University of Gothenburg di Swedia, adalah yang menemukan empat spesies cacing itu ketika menyaring sampel pasir yang diambil dari Great Barrier Reef. Salah satu dari empat cacing tersebut mempunyai warna hijau, yang diberi nama
Grania colorata, berbeda dengan tiga spesies cacing lain yang berwarna putih. "Cacing ini umumnya putih atau tak berwarna, dan kami belum bisa mengungkap mengapa spesies ini berwarna hijau," kata De Wit.

De Wit juga menemukan anggota keluarga
Grania di Skandinavia yang belum diketahui sebelumnya. Spesies cacing Grania occulta tersebut semula dianggap sebagai spesies Grania yang telah diketahui, namun analisis DNA menunjukkan bahwa spesies itu berbeda.

"Spesies yang sebelumnya dianggap sebagai spesies yang sama itu terbukti mempunyai fungsi yang amat berbeda dalam ekosistem, semisal toleransi berbeda terhadap racun lingkungan," kata De Wit. "Ini jelas penemuan penting agar kami dapat mengambil langkah yang tepat dalam melindungi fauna kita." Saat ini terdapat 71 spesies yang telah dideskripsikan dalam genus
Grania.

Ular Jingga di Jantung Kalimantan

Katak tanpa paru-paru dan katak terbang adalah beberapa jenis fauna dari 123 spesies baru yang ditemukan di Kalimantan sejak 2007, dalam sebuah proyek untuk melestarikan satu hutan hujan tertua di dunia. 

Selain penemuan spesies baru, laporan kelompok konservasi WWF itu juga menyerukan upaya perlindungan bagi spesies terancam punah dan hutan hujan khatulistiwa di Kalimantan, hutan hujan ketiga terbesar di dunia dan dimiliki bersama oleh Indonesia, Malaysia dan Brunei.

"Tantangannya adalah memastikan lanskap yang amat berharga ini tetap utuh bagi generasi mendatang," kata laporan yang dipublikasikan akhir pekan lalu.


Pencarian spesies baru itu adalah bagian dari proyek Heart of Borneo yang dimulai pada Februari 2007 dan didukung oleh WWF dan pemerintah tiga negara tersebut. Tujuannya adalah melestarikan hutan hujan seluas 220.000 kilometer persegi yang dideskrispikan oleh Charles Darwin sebagai "salah satu rumah kaca terkaya yang dibuat oleh alam bagi dirinya sendiri."


Para penjelajah telah silih berganti mengunjungi pulau itu selama berabad-abad, namun sebagian besar kekayaan hayatinya belum tereksplorasi, kata Adam Tomasek, ketua proyek Heart of Borneo dari WWF. "Jika sepetak hutan hujan yang tak tergantikan ini dapat dikonservasi bagi anak-anak kita, penemuan spesies baru yang menjanjikan ini akan membangkitkan gairah bagi generasi ilmuwan di masa depan untuk mencarinya," katanya.


Di antara temuan para ilmuwan itu adalah serangga batang terpanjang di dunia dengan ukuran 56,7 sentimeter, ular berwarna jingga seperti kobaran api dan seekor katak terbang yang dapat mengubah warna kulit dan matanya. Secara keseluruhan, mereka menemukan 67 jenis tumbuhan, 29 invertebrata, 17 ikan, lima katak, tiga ular dan dua kadal serta satu spesies baru burung.


Borneo telah lama dikenal sebagai "surga" serangga monster, seperti kecoak raksasa sepanjang 10 cm. Beberapa spesies fauna yang ditemukan adalah:


• Ular yang memiliki corak jingga terang, mirip seperti kobaran api, pola yang secara bertahap berubah menjadi
iridescent seperti pelangi dan biru terang, hijau dan coklat. Ketika merasa terancam, dia akan menegakkan belakang lehernya, memperlihatkan warna jingga terang.

• Katak yang bernafas lewat kulit karena tak mempunyai paru-paru, sehingga membuatnya tampak pipih. Bentuk aerodinamik itu memungkinkan katak bergerak lincah dalam arus deras. Walaupun spesies itu ditemukan pada 1978, baru sekarang para ilmuwan mengetahui bahwa reptil itu tak memiliki paru-paru.


• Siput telanjang dataran tinggi yang ditemukan di Gunung Kinabalu. Siput itu mempunyai ekor tiga kali lipat panjang kepalanya. Mereka menembakkan "panah cinta" dari kalsium karbonat selama proses kawin untuk menyuntikkan hormon kepada pasangannya. Ke tika bersitirahat, slug itu melilitkan ekor panjangnya ke sekeliling tubuh.


Heart of Borneo, adalah kawasan inti Kalimantan yang menjadi target konservasi. Kawasan itu adalah tempat tinggal 10 spesies primata, lebih dari 350 burung, 150 reptil dan amfibi serta lebih dari 10.000 tumbuhan yang tak ditemukan di tempat manapun di dunia.

Ikan Hantu dari Palung Sedalam 7 Km

Spesies baru snailfish, jenis ikan laut dalam yang bergerak lambat seperti siput, berhasil terekam dengan kamera bawah air. Tubuhnya yang berwarna putih seluruhnya, ikan tersebut bak hantu saat ditemukan sedang berenang di kegelapan samudra pada kedalaman 7 km di palung laut perairan Peru-Cile, Samudra Pasifik bagian tenggara.

"Hal yang menggoda adalah kita punya foto yang sangat jelas dari spesies itu," kata Monty Priede, Direktur Oceanlab di Universitas Aberdeen, Skotlandia. "Tidak seorang pun yang pernah melihat ini sebelumnya, dan itu tak pernah ditangkap kamera sebelumnya."

Snailfish merupakan jenis vertebrata atau hewan bertulang belakang yang hidup di perairan paling dalam. Penemuan teranyar ini menguatkan bukti bahwa banyak hewan laut dalam yang tahan terhadap kondisi ekstrem seperti suhu rendah dan tekanan tinggi. Rekor snailfish yang paling dalam ditemukan adalah pada palung di perairan Jepang yang direkam pada tahun 2008 di kedalaman 7,7 km.


Hidup begitu jauh di bawah air, spesies yang berukuran panjang 15 cm itu mampu menahan tekanan tinggi yang setara dengan 1.600 gajah yang berdiri di atas minicooper. "Pada level molekuler dan detail biokimianya, spesies tersebut sangat adaptif dengan lingkungannya yang bertekanan tinggi," ucap Priede, menerangkan kemampuan spesies tersebut untuk bertahan di kedalaman laut.

Ikan tersebut merupakan salah satu spesies baru yang ditemukan dalam ekspedisi hasil kerja sama antara Oceanlab Universitas Aberdeen Skotlandia, National Institute of Water and Atmospheric (NIWA) Selandia Baru, dan Universitas Tokyo Jepang baru-baru ini. Selama tiga minggu ekspedisi, tim peneliti berhasil menangkap 6.000 gambar di palung berkedalaman 4.500 hingga 8.000 meter. Selain menemukan spesies tersebut, para peneliti juga menemukan sejumlah besar amphipod, cusk eel (sejenis belut), dan crustacea (udang-udangan) pemakan bangkai.

Minggu, 17 Oktober 2010

New Species of Fish

Let’s meet this new kind of fish! Seorang peneliti dari Washington University bernama Ted Pietsch mengkonfirmasi bahwa ikan yang dia temukan di perairan Indonesia ini adalah ikan spesies terbaru dengan nama Histiophryne psychedelica

Nggak jauh beda seperti ikan katak (frogfish) lainnya, ikan spesies ini punya sirip yang mirip kaki di kedua sisi tubuhnya. Uniknya, ikan ini setiap mau mencapai dasar laut, mereka akan mendorong dengan sirip-siripnya lalu melepaskan air dari insang kecil dan membuka serta mendorongnya ke depan, hihi.. 

Lucunya lagi, ekornya yang “off-centered” bikin ikan ini kalau lagi goyang gayanya aneh banget =D... Oh iya, tubuh ikan ini emang mirip agar-agar dan berukuran sekepal tangan yang dibalut kulit tebal untuk melindungi dia dari koral-koral yang tajam. Mukanya juga flat dengan mata yang langsung menatap ke depan dan mulut yang terbuka lebar. Seriously, liat foto ikan terbaru ini menghibur banget ya, hihi..